FILSAFAT MULLA SADRA PDF

Oleh : Syafieh, M. Pendahuluan Filsafat Islam merupakan suatu ilmu yang masih diperdebatkan pengertian dan cakupannya oleh para ahli. Akan tetapi di sini penulis cendenrung condong kepada pendapat yang mengatakan bahwa Filsafat Islam itu memang ada dan terbukti exis sampai sekarang. Dalam perjalanan sejarah peradaban Islam, orang sering beranggapan bahwa penyerbuan Mongol terhadap dunia islam yang telah menghancurkan khilafah Timur dan terusirnya orang Islam dari Spanyol telah menghilangkan khilafah Barat. Dalam arti perkembangan pemikiran dari dunia Islam seakan-akan terhenti. Aliran-aliran ini berkembang pesat selama empat abad sebelum Mulla Shadra, yang merupakan jalan buat sintesis utama yang dilakukan oleh Mulla Shadra.

Author:Akinolar Kazrajin
Country:Zambia
Language:English (Spanish)
Genre:Business
Published (Last):15 January 2004
Pages:217
PDF File Size:15.80 Mb
ePub File Size:5.22 Mb
ISBN:783-8-14309-299-9
Downloads:2924
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Mabei



Pendahuluan Latar Belakang Dalam sejarah peradaban Islam kita sering dikenalkan dengan berbagai pemikiran tokoh-tokoh Islam yang sangat membantu dalam proses majunya peradaban Islam.

Pemikiran-pemikiran Islam ini tidak lepas dari pemikiran tokoh-tokoh yunani seperti Aristoteles dan Plato. Filsafat wujud ini sebenarnya telah dikemukakan secara eksplisit oleh berbagai tokoh Islam seperti al-Farabi, ibnu rusyd, dan At-thusi. Mulla Sadra adalah tokoh yang menggabungkan semua pemikiran pendahulunya, bahkan dia terkenal di dunia barat sebagai filosof sintesa.

Iluminasionis para sufi menurut Mula sadra harus di sandarkan pada rasionalitas dan begitupun sebaliknya. Kemudian dia juga beranggapan bahwa wujud adalah realitas sesungguhnya dan bukan mahiyah atau esensi. Mula Sadra juga telah mengungkapkan hakikat hikmah yang baginya kita harus membedakan antara tingkatan pemahaman dan realitas eksternal, secara rasional dan sadar. Mereka membedakan sejelas-jelasnya antara keduanya dan tidak mengaburkan keduanya pula.

Oleh karena itu jika mengaburkannya dilakukan dengan tidak sadar maka akan berdampak pada kesalahpahaman, dan apabila dilakukan dengan sadar maka akan terjadi suatu kesesatan berfikir yang sangat parah.

Oleh karena itu untuk lebih jelasnya marilah kita melihat bagian pembahasan makalah ini. Dia mempunyai gelar sadr al-din dan dia lebih populer dengan nama Mula Sadra. Bapaknya beranama Ibrahim bin Yahya al-Qawami al-Syirazi, beliau pernah menjabat sebagai Gubernur Provinsi Fars dan beliau adalah orang yang sangat cerdas dan saleh, dan secara sosial politik ia memiliki kedudukan yang istimewa dikota asalnya. Sebagai sorang anak yang cerdas , dia mampu menguasai semua disiplin ilmu dan dia juga telah memperlihatkan tingkat kesolehan yang tinggi.

Mulla Sadra menguasai bahasa Arab dan Persia yang amat kuat , menghafal Quran dan hadist serta mengetahui fiqhi. Hal ini dilatar belakangi sebab pada zamannya banyak orang yang sudah meninggalkan hal-hal terpuji, dan juga dia merasa bosan dengan kehidupan duniawi.

Menurutnya watak dunia selalu tidak pasti dan membuat kegelisahan yang berlebihan, Alhasil adalah Mulla Sadra menemukan kebenaran baru yang belum pernah dia ketahui yang didapatinya secara langsung dari proses intuitif dan menyendiri itu. Ditempat kelahirannya itu dia banyak menulis karya-karyanya yang sangat luar biasa, sehingga banyak orang mulai tertarik dengan pemikiran-pemikirannya baik yang datang dari dekat maupun jauh.

Namun hal yang perlu kita ingat bahwa pada masa itu Mulla Sadra bersikap untuk tidak mempedulikan imbalan yang diberikan kepadanya dan menolak menulis karangan yang berkaitan dengan penguasa yang pada saat itu hal tersebut telah menjadi sesuatu yang umum dikotanya. Karena sikapnya yang tidak ingin mengambil imbalan maka banyak para pesaing-pesaingnya yang mulai menyerangnya dengan berbagai cara.

Mulla Sadra mengajarkan ilmunya di sekolah yang dibangun oleh Allahwirdi Khan di Shirazi, karena institusi ini jauh dari suasana politik dan kemegahan ibukota.

Selama 30 tahun hidup di shiraz, Mulla Sadra sering melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Mekah, sehingga tak heran selama kurun waktu itu Mulla Sadra telah menunaikan haji sebanyak tujuh kali, dengan berjalan kaki. Akhirnya setelah melaksanakan haji yang ketujuh kalinya Mulla Sadra menderita sakit saat berada di Basrah yang ketika itu tujuanya adalah kembali ke Shiraz.

Dari sinilah muncul berbagai cabang ilmu seperti al-Hikmah al-Ilahiyyah,atau al-Falsafah al-Ula. Realitas tidak bisa hanya disandarkan pada aspek rasionalitas akan tetapi harus ada sebuah penghayatan spiritual yang menunjang akan hal itu. Penambahan aspek penghayatan spiritual dapat membawa kita pada sikap asketis yang dapat menjaga kelencengan atau pembelokan cara berfikir rasional kita. Karya-Karya Mulla Sadra Karya-karya Mulla Sadra berkisar dari yang sangat monumental dan juga ada sekedar risalah-risalah kecil.

Jumlah karya mulla Sadra ada sekitar 41 risalah, dan semuanya telah dicetak dalam literatur Iran pada seabad yang lalu. Akan tetapi dalam makalah ini hanya akan dirincikan 5 karyanya saja. Berdasarkan sumber-sumber yang ada, karyanya dapat dirincikan sebagai berikut: 1. Tulisan ini pertama kali diterbitkan pada tahun H, di Teheran. Tulisan-nya ini adalah tulisan yang paling utama diantara sekian banyak karyanya.

Karya ini membahas tentang doktrin gnostik dan filosofis tetapi tidak merujuk pada pndapat pendahulunya dan terdiri atas halaman dalam format sedang. Mafatih al-Gaib Titerbitkan di Teheran tahun H, tulisannya ini membahas tentang doktrin-doktrin irfani atas kosmologi,eskatologi, dan metafisika, yang terdiri atas halaman. Dalam pemikiran ini Mulla Sadra memasukan unsur-unsur doktrinal yang bersifat inspiratif dan intuitif yang merupakan hasil iluminasi yang mentransformasikan ide-ide baru sehingga terbentuk suatu pemahaman metafisika yang baru.

Jadi sangatlah jelas bahwa ada tiga fundasi berdirinya pemikiran ini diantaranya yaitu, intuisi intelektual, penalaran dan pembuktian rasional, dan yang ketiga adalah agama dan wahyu.

Irfani sebagai hasil dari iluminasi yang didapatkan dari pensucian diri dan jiwa, dan pembuktian rasional dan filsafat terkait dengan al-Quran dan Hadist Nabi serta ajaran para imam. Mulla Sadra berasumsi bahwa untuk mencapai pengetahuan yang tinggi maka harus ada konsep Kasyf, yang di topang oleh wahyu, dan tidak bertentangan dengan Burhani.

Akan tetapi disisi lain dia merasa terdapat suatu kekosongan dalam dirinya mengenai ilmu yang sejati, sehingga baginya perlu ada suatu konsep Zauqh, dan Wijdan. Mulla Sadra mengakui bahwa masalah ketuhanan baru bisa dipahami setelah dasar-dasar pemikiran atau konsep fumdamental-nya dipahami lebih dulu, pemahaman ini bisa dilalui dengan dua cara: pertama yaitu melalui intuisi intelektual gerak cepat dan yang kedua melalui pemahaman konseptual atau gerak lambat.

Para nabi biasanya mendapatkan pengetahuan sejati melalui proses pertama dan yang kedua biasanya dilakukan oleh para ilmuan, ahli pikir dan mereka yang menggunakan rasionalitas. Mulla Sadra menganggap bahwa pengetahuan yang diperoleh dengan tingkat pewahyuan atau kewalian sekalipun tidak bisa diterima oleh keputusan akal, namunharus diingat bahwa jika hanya mengandalkan akal semata pengetahuan semacam itu kemungkinan tidak bisa dijangkau.

Oleh karena itu baginya kita harus dapat membedakan sesuatu yng tidak bisa dijangkau oleh akal dan yang mustahil bagi akal. Menurutnya untuk mengukur kebenaran akal dan untuk menghindari dari kesalahan rasional maka kita membutuhkan wahyu, olehnya lebih lanjut dia mengatakan bahwa hikmah itu tidak bisa di terima jika tidak mendasarkanya pada agama. Dan seseorang yang tidak mengetahui hakikat akan segala sesuatu bukan seorang ahli hikmah bagi Mulla Sadra.

Kemudian berbicara masalah akal maka kita juga tidak bisa tidak bersandar pada agama dan wahyu, sebab akal akan terbatas fungsinya jika tidak dipadukan dengan wahyu. Sehingga Mulla Sadra berusaha mengkombinasikan keduanya dengan tanpa meninggalkan salah satunya. Inilah proses sintesa yang diberikan Mulla Sadra dalam pemikiranya, sebab baginya agama yang benar tidak akan memberikan hukum-hukum yang bertentangan dengan pengetahuan yang meyakinkan dan pasti.

Agama yang disertai dengan akal adalah cahaya diatas cahaya. Kemudian dengan pemikiran ini maka Mulla Sadra berusaha menjelaskan semua masalah dengan logis dan tidak bertentangan dengan hati. Hal ini terbukti dengan rasionalitas yang ditunjukanya demi membuktikan pengetahuan dari visi spiritualitas.

Menurutnya bahwa masalah wujud adalah sumber yang sekaligus pusat dari semua metafisika, oleh karena itu jika seseorang tidak mengetahui masalah wujud maka dia pula tidak mengetahui masalah metafisika secara keseluruhan. Dalam hal ini Mulla sadra telah menetapkan dua proposisi diantaranya yaitu: 1. Wujud tidak memerlukan pembuktian, karena ia sudah terbukti dengan sendirinya.

Wujud tidak bisa didefinisikan. Kedua hal ini saling berkaitan satu sama lain, sebab jika wujud tidak memerlukan pembuktian maka wujud pula sangat janggal apabila didefinisikan. Bagi Mula sadra walaupun wujud bersifat apriori atau pasti akan tetapi akal atau fikiran telah memahami konsep wujud tetapi belum secara universal. Oleh sebab itu untuk menjelaskan ketidak jelasan pemahaman itu mulla sadra mengusulkan cara penyelidikan dengan menganalisa makna wujud dalam termenologhi yang lebih jelas.

Dalam penyelidikan Mulla sadra, hakekat wjud menurutnya terbagi menjadi dua pandangan: yang pertama Wujud yang lebih abstrak dan yang kedua adalah Konseptual. Wujud dalam arti abstrak adalah bahwa wujud itu terdapat pada semua yang mawujud, sebab wujud hanya menandakan keberadaan bagi yang maujud, apabila yang wujud tidak ada dalam maujud maka kata keberadaan mawujud juga tidak ada. Kemudian wujud dalam arti konseptual adalah sebagaimana yang diakui oleh kaum parepatetik bahwa wujud pada hakekatnya adalah wujud dari sesuatu, dan tidak ada yang lebih rill selain wujud itu sendiri.

Dalam pemikirannya ini dia berusaha menggabungkan antara agama, filsafat, dengan konsep Zauqh atau Israqih. Bagi Mulla sadra ketiga hal ini saling membuktikan kebenaran dan tidak bertentangan satu sama lain. Oleh karna itu kita harus dapat membedakan mana yang mustahil bagi akal dan mana yang tidak bisa dijangkau oleh akal. Agama dan Wahyu bagi Mulla sadra adalah bukan sesuatu yang mustahil bagi akal, akan tetapi ia belum bisa dijangkau oleh akal.

Sebaliknya jika agama dan wahyu tidak bersandar pada rasionalitas maka agama itu akan terkesan meninggalkan keyakinan terhadap ilmu yang pasti, sebab agama yang disandarkan pada penalaran merupakan cahaya diatas cahaya. Pemikiran Mulla Sadra yang kedua adalah Filsafat Wujudnya, Wujud dalam pandangan mulla sadra ada dua hal yakni wujud abstrak dan wujud konseptual. Mulla sadra tidak sependapat dengan para filosofis yang menyatakan bahwa wujud merupakan hasil abstraksi mental dari suatu pemikiran.

VI, hal. V, hal.

COURS MICROPROCESSEUR Z80 PDF

Mulla Sadra

Pendahuluan Latar Belakang Dalam sejarah peradaban Islam kita sering dikenalkan dengan berbagai pemikiran tokoh-tokoh Islam yang sangat membantu dalam proses majunya peradaban Islam. Pemikiran-pemikiran Islam ini tidak lepas dari pemikiran tokoh-tokoh yunani seperti Aristoteles dan Plato. Filsafat wujud ini sebenarnya telah dikemukakan secara eksplisit oleh berbagai tokoh Islam seperti al-Farabi, ibnu rusyd, dan At-thusi. Mulla Sadra adalah tokoh yang menggabungkan semua pemikiran pendahulunya, bahkan dia terkenal di dunia barat sebagai filosof sintesa. Iluminasionis para sufi menurut Mula sadra harus di sandarkan pada rasionalitas dan begitupun sebaliknya. Kemudian dia juga beranggapan bahwa wujud adalah realitas sesungguhnya dan bukan mahiyah atau esensi. Mula Sadra juga telah mengungkapkan hakikat hikmah yang baginya kita harus membedakan antara tingkatan pemahaman dan realitas eksternal, secara rasional dan sadar.

BUKU PANDUAN HARVEST MOON PS1 PDF

MULLA SADRA DAN GAGASAN TEOSOFI TRANSENDEN

Latar Belakang Syiraz adalah kota bersejarah Iran dan terletak di wilayah Pars. Di zaman Mulla Sadra, pemerintah Iran di bawah kekuasaan keturunan Shafawiyan yang secara resmi mengakui kemerdekaan wilayah Pars, saudaranya menjadi raja di wilayah Pars dan salah satu menterinya adalah ayah Mulla Sadra. Ayah Mulla Sadra -Khajah Ibrahim Qiwami- seorang negarawan yang cerdas dan mukmin serta memiliki kekayaan yang melimpah dan kedudukannya yang mulia lagi terhormat, namun setelah menunggu bertahun-tahun ia baru dianugerahkan seorang putra yang diberi nama Muhammad Sadruddin dan sehari-hari dipanggil Sadra, setelah dia dewasa kemudian digelari mulla yang berarti ilmuwan besar lalu digabungkan dengan nama kecilnya menjadi Mulla Sadra. Sadruddin Muhammad Sadra , merupakan anak tunggal seorang menteri raja yang menguasai wilayah luas Pars, hidup di lingkungan yang religius, terhormat dan mulia. Biasanya untuk anak-anak yang tinggal di lingkungan istana pada saat itu mereka diajar oleh guru privat di rumah mereka sendiri. Sadra seorang anak yang cerdas, semangat dan rajin belajar, dalam waktu yang singkat dia menguasai seluruh pelajaran yang diajarkan seperti, tata-bahasa Persia, Arab, seni dan tulisan indah.

DDR3 JEDEC SPECIFICATION PDF

Latar Belakang Di awal abad ke 11 terjadi perubahan besar dalam substansi pengkajian dan sistimatika pembahasan konsep-konsep ketuhanan dalam filsafat Islam. Sebelum abad kesebelas terdapat empat aliran filsafat yang bersifat mandiri, terpisah satu sama lain dan masing-masing berpijak pada teori dan gagasannya sendiri-sendiri. Aliran filsafat baru ini, disamping memanfaatkan warisan pemikiran dan kaidah-kaidah filsafat terdahulu, juga dapat menjembatani antara pemikiran-pemikiran filsafat dan doktrin-doktrin suci agama. Rumusan Masalah Bagaimana biografi dari Mulla Sadra?

Related Articles